Sebelum membeli chamber, hitung dulu kelayakannya. Rumusnya sederhana, yang sulit adalah menetapkan asumsi yang realistis.
Rumus dasar
- Sesi per bulan = sesi per hari x hari operasional per bulan.
- Omzet bulanan = sesi per bulan x harga per sesi.
- Margin per sesi = harga per sesi dikurangi biaya variabel per sesi (oksigen, listrik, honor operator, bahan habis pakai).
- Laba bersih bulanan = (sesi per bulan x margin per sesi) dikurangi biaya tetap bulanan (sewa ruang, gaji tetap, pemasaran, perawatan).
- Balik modal (bulan) = total investasi dibagi laba bersih bulanan.
Contoh ilustrasi
| Asumsi | Nilai contoh |
|---|---|
| Total investasi (chamber, instalasi, ruang, pelatihan) | Rp500.000.000 |
| Sesi per hari | 4 |
| Hari operasional per bulan | 25 |
| Sesi per bulan | 100 |
| Harga per sesi | Rp500.000 |
| Omzet bulanan | Rp50.000.000 |
| Biaya variabel per sesi | Rp150.000 |
| Margin per sesi | Rp350.000 |
| Margin bulanan (100 sesi) | Rp35.000.000 |
| Biaya tetap bulanan | Rp15.000.000 |
| Laba bersih bulanan | Rp20.000.000 |
| Balik modal | 25 bulan (Rp500 juta / Rp20 juta) |
Uji sensitivitas
Ubah asumsi paling tidak pasti, yaitu tingkat keterisian sesi. Dengan angka contoh di atas, jika sesi turun menjadi 60 per bulan, margin bulanan menjadi Rp21 juta dan laba bersih hanya Rp6 juta, sehingga balik modal memanjang menjadi sekitar 83 bulan. Karena itu, rencana pemasaran dan basis klien sama pentingnya dengan harga alat.
Yang sering terlupa
- Biaya instalasi, listrik, dan renovasi ruang.
- Pelatihan dan penggantian operator.
- Biaya perawatan berkala dan suku cadang.
- Biaya perizinan dan asuransi.
