Terapi oksigen hiperbarik (HBOT) makin sering dibicarakan sebagai pilihan bagi penyintas long COVID. Pesan yang beredar kerap menjanjikan pemulihan kelelahan, brain fog, dan stamina. Padahal, bukti ilmiahnya belum sekuat yang sering dibayangkan. Artikel ini merangkum apa yang sudah diuji secara acak dengan plasebo, apa yang belum terbukti, dan mengapa pasien perlu evaluasi medis sebelum mengikuti klaim klinik wellness.
Apa yang sudah diuji secara acak dengan plasebo
Uji acak terkontrol plasebo yang paling sering dirujuk adalah HOT-LoCO, uji fase II yang dilakukan di Karolinska, Swedia. Studi yang dipublikasikan di BMJ Open ini melibatkan 80 subjek, dibagi rata menjadi 40 orang untuk HBOT dan 40 orang untuk kelompok kontrol. Sebagian besar peserta adalah perempuan.
Protokolnya memakai oksigen 100 persen pada tekanan 2,4 bar selama 90 menit, dengan maksimal 10 sesi dalam enam minggu. Kelompok plasebo menerima udara medis pada tekanan yang jauh lebih rendah. Desain seperti ini penting, karena memungkinkan peneliti membedakan efek terapi dari efek harapan dan suasana sesi.
Hasilnya: keduanya membaik, tetapi tidak ada keunggulan jelas
Pada minggu ke-13, kedua kelompok sama-sama menunjukkan perbaikan. Namun, tidak ada perbedaan yang bermakna antara HBOT dan plasebo pada skor fungsi fisik maupun peran fisik. Dengan kata lain, 10 sesi HBOT dalam studi ini tidak menunjukkan keunggulan jangka pendek dibanding plasebo.
| Jenis studi | Temuan utama | Keterbatasan |
|---|---|---|
| Uji acak plasebo HOT-LoCO (80 subjek) | Kedua kelompok membaik; tidak ada keunggulan bermakna HBOT pada fungsi fisik | Jumlah subjek terbatas; fokus jangka pendek |
| Uji acak sebelumnya (40 sesi) | Perbaikan gejala kognitif, psikiatrik, kelelahan, tidur, dan nyeri | Perlu dibaca cermat terkait kelompok pembanding dan ukuran sampel |
| Tindak lanjut satu tahun (31 pasien) | Perbaikan kualitas hidup dan tidur bertahan lebih dari setahun | Tanpa kelompok kontrol |
Keamanan: efek samping sebanding dengan plasebo
Dari sisi keamanan, HOT-LoCO mencatat efek samping pada 19 dari 40 subjek di kelompok HBOT. Efek yang paling sering adalah batuk serta nyeri atau tidak nyaman di dada. Angkanya sebanding dengan kelompok plasebo, dan peneliti menilai profil bahayanya cukup baik. Meski begitu, angka ini tetap menunjukkan bahwa sesi bukan tanpa risiko, dan pemantauan oleh tenaga yang kompeten tetap diperlukan.
Studi yang lebih besar belum tentu lebih meyakinkan
Beberapa penelitian lain menarik perhatian karena melaporkan perbaikan. Sebuah uji acak terdahulu yang memakai 40 sesi HBOT menyebut perbaikan gejala kognitif, psikiatrik, kelelahan, tidur, dan nyeri. Tindak lanjut satu tahun pada 31 pasien juga menunjukkan kualitas hidup dan tidur yang tetap membaik. Namun, studi tindak lanjut ini tidak memiliki kelompok kontrol, sehingga tidak bisa memastikan bahwa perbaikan tersebut berasal dari terapi.
Sebuah preprint registri prospektif terhadap 232 pasien juga menyoroti pertanyaan tentang relevansi klinis dari efek HBOT. Studi pilot berbasis komunitas melaporkan perbaikan kelelahan dan sesak napas setelah empat minggu terapi, tetapi desain pilot membuat temuannya belum bisa digeneralisasi. Tinjauan sistematis tentang HBOT untuk long COVID menyimpulkan bahwa tingkat bukti pengobatan long COVID secara umum masih rendah, dan belum ada terapi standar yang mapan.
Apa yang belum terbukti
Berdasarkan bahan riset yang ada, beberapa hal belum terjawab dengan meyakinkan:
- Manfaat HBOT dibanding plasebo untuk fungsi fisik dalam jangka pendek.
- Efektivitas dan keamanan pada pasien dengan kondisi lebih berat atau yang sakit lebih lama.
- Relevansi klinis dari perbaikan skor yang tercatat dalam berbagai studi.
- Lama manfaat setelah terapi dan jumlah sesi yang optimal untuk setiap pasien.
Dokumen pendahuluan HOT-LoCO juga mencatat bahwa belum ada terapi berbasis bukti yang diadopsi luas untuk long COVID. Banyak pasien, menurut dokumen tersebut, akhirnya mencari "obat" yang mahal untuk pengelolaan mandiri. Kondisi inilah yang membuat klaim cepat pulih perlu disikapi dengan hati-hati.
Mengapa klaim klinik wellness perlu disikapi hati-hati
Kelelahan berkepanjangan, penurunan stamina, dan brain fog memiliki banyak kemungkinan penyebab. Republika menegaskan bahwa gejala tersebut tidak otomatis berarti kekurangan oksigen jaringan, dan tidak otomatis membutuhkan HBOT. Penyebabnya tetap perlu dicari melalui evaluasi. Pandangan serupa disampaikan detikHealth, yang mengutip dokter bahwa untuk kelelahan, brain fog, atau penurunan stamina yang belum jelas penyebabnya, evaluasi medis harus dilakukan lebih dulu.
Republika juga mengingatkan agar masyarakat membedakan HBOT sebagai terapi medis yang memiliki indikasi dengan klaim peningkatan kesehatan umum. Dokter perlu menilai tujuan terapi, kemungkinan manfaat, dan kontraindikasi sebelum keputusan diambil. Anda bisa membaca lebih lanjut tentang penjelasan dasar HBOT untuk pemula sebelum mengambil keputusan.
Dari sisi perangkat, chamber untuk HBOT dengan oksigen murni termasuk alat kesehatan yang wajib didaftarkan. Karena itu, klaim layanan wellness perlu dicek legalitas dan kesesuaiannya dengan indikasi. Sebagai contoh, chamber monoplace medical grade seperti OTO-101 dari PT Habeote Nafas Murni dirancang untuk layanan medis dan memiliki izin edar. Chamber monoplace banyak dipakai klinik karena privasi dan fleksibilitas penjadwalan pasien, tetapi jenis alat yang tepat tetap bergantung pada layanan dan indikasi.
Langkah sebelum memutuskan
- Konsultasikan gejala ke dokter untuk mencari penyebab kelelahan atau brain fog.
- Tanyakan tujuan terapi, bukti yang mendasarinya, dan kemungkinan efek sampingnya.
- Pastikan klinik memiliki tenaga dan prosedur yang sesuai, serta perangkat yang berizin.
- Waspadai janji kesembuhan cepat atau paket yang tidak melibatkan penilaian medis.
HBOT untuk long COVID masih berada di wilayah penelitian. Evaluasi dokter tetap menjadi langkah pertama, dan keputusan terapi sebaiknya diambil bersama tenaga medis yang memahami kondisi Anda. Untuk konteks yang lebih luas, baca juga ulasan tentang pentingnya evaluasi medis sebelum HBOT.
