Banyak pengelola klinik menganggap urusan keselamatan selesai ketika chamber sudah terpasang dan izinnya sudah ada. Padahal, keselamatan terapi oksigen hiperbarik (HBOT) justru berjalan setiap hari, mulai dari cara staf menyiapkan sesi, barang apa yang boleh masuk ke dalam ruang, hingga bagaimana tim merespons kondisi darurat. Karena itu, keselamatan hyperbaric chamber sebaiknya dipandang sebagai sistem kerja yang perlu ditulis, dilatih, dicatat, dan diaudit.
Mengapa Keselamatan Chamber Adalah Kewajiban Harian
FDA, badan regulator kesehatan Amerika Serikat, mengingatkan fasilitas kesehatan agar setiap perangkat HBOT dioperasikan sesuai petunjuk pabrikan masing-masing. Badan tersebut juga mencatat adanya laporan cedera serius bahkan kematian yang berkaitan dengan penggunaan perangkat ini. Pesan utamanya jelas: kepatuhan pada prosedur sehari-hari sama pentingnya dengan spesifikasi alat.
FDA juga menjelaskan bahwa chamber HBOT dapat berupa tabung untuk satu orang atau ruangan yang memuat lebih dari satu orang. Perbedaan bentuk ini memengaruhi alur kerja, jumlah pasien yang dipantau bersamaan, dan kebutuhan pengawasan staf. Oleh sebab itu, SOP klinik harus disusun sesuai jenis chamber yang benar-benar digunakan, bukan contoh umum.
SOP Tertulis: Dokumen yang Hidup, Bukan Arsip
Undersea and Hyperbaric Medical Society (UHMS) merekomendasikan klinik menyusun dokumen prosedur tertulis yang sesuai dengan praktik nyata di lapangan. Dokumen ini idealnya disetujui oleh Hyperbaric Safety Director dan Hyperbaric Medical Director, sehingga ada tanggung jawab yang jelas dari sisi keselamatan maupun medis.
Agar SOP tidak berhenti sebagai arsip, sebaiknya setiap prosedur memuat beberapa hal dasar:
- Tahapan persiapan pasien sebelum masuk chamber, termasuk pemeriksaan barang bawaan.
- Langkah pengoperasian sesuai petunjuk pabrikan dan jadwal yang berlaku.
- Cara pemantauan pasien selama sesi berlangsung.
- Prosedur tanggap darurat dan pihak yang berwenang mengambil keputusan.
- Catatan pemeriksaan dan pemeliharaan yang bisa ditelusuri saat audit.
SOP juga perlu ditinjau ulang setiap ada perubahan alat, pergantian staf kunci, atau temuan dari insiden. Dengan cara ini, dokumen mencerminkan praktik yang benar-benar dijalankan.
Pengendalian Barang yang Masuk ke Dalam Chamber
Risiko kebakaran menjadi perhatian utama karena oksigen berkonsentrasi tinggi meningkatkan kemudahan terbakarnya bahan di sekitarnya. FDA meminta fasilitas memastikan langkah pencegahan kebakaran dan peralatan pembumian (grounding) yang tepat. Mayo Clinic mencatat bahwa korek api dan perangkat bertenaga baterai yang menghasilkan panas tidak boleh dibawa masuk chamber. Pasien juga diminta tidak memakai produk perawatan kulit atau rambut tertentu sebelum sesi.
Agar pengendalian barang konsisten, klinik dapat membuat daftar kategori yang jelas, seperti pada tabel berikut.
| Kategori barang | Contoh | Tindakan yang diatur SOP |
|---|---|---|
| Sumber api dan panas | Korek api, pemantik, perangkat bertenaga baterai yang menghasilkan panas | Dilarang masuk chamber; diperiksa saat pasien tiba |
| Produk perawatan tubuh | Produk perawatan kulit atau rambut tertentu | Pasien diminta tidak memakainya sebelum sesi; staf memberi penjelasan tertulis |
| Barang di luar daftar | Barang yang belum diatur dalam SOP | Tidak diizinkan masuk sampai ada keputusan tertulis dari pihak berwenang |
Untuk barang di luar daftar, UHMS mencatat bahwa keputusan mengizinkan suatu barang masuk chamber dapat didelegasikan kepada physician-in-charge, tetapi harus disetujui oleh Hyperbaric Safety Director. Artinya, dua orang harus sepakat, dan persetujuan itu sebaiknya dicatat. Mekanisme dua tanda tangan ini mencegah keputusan sepihak yang sulit dipertanggungjawabkan saat audit.
Pelatihan dan Kompetensi Tim HBOT
FDA meminta fasilitas menjaga pelatihan staf secara berkelanjutan. Pelatihan tidak cukup dilakukan sekali saat klinik dibuka. Kompetensi perlu diperbarui secara berkala, terutama ketika ada pembaruan prosedur, perubahan alat, atau insiden yang perlu dievaluasi.
Direktorat Mutu Tenaga Kesehatan Kementerian Kesehatan RI menyusun pelatihan Terapi Oksigen Hiperbarik untuk tim yang terdiri dari dokter, perawat, dan teknisi. Persyaratan pendidikannya meliputi dokter umum, D3 keperawatan, dan lulusan SMK jurusan mesin, listrik, atau elektro untuk teknisi. Kurikulumnya mencakup standar dan keselamatan dalam TOHB serta penanganan kegawatdaruratan di dalam ruang udara bertekanan tinggi (RUBT).
Bagi pengelola klinik, materi ini bisa dijadikan acuan untuk menyusun matriks kompetensi. Setiap anggota tim dapat dicatat kualifikasinya, pelatihan yang sudah diikuti, dan simulasi kedaruratan yang pernah dijalani. Dokumen ini membantu klinik menunjukkan siapa yang berwenang melakukan apa saat audit berlangsung.
Pemantauan Pasien dan Jadwal Pemeliharaan
FDA juga meminta pasien dipantau sepanjang sesi, serta fasilitas mengikuti jadwal perawatan dan pemeriksaan keselamatan yang ditetapkan pabrikan. Pemantauan yang baik berarti ada penanggung jawab yang jelas di luar chamber, catatan kondisi pasien, dan mekanisme komunikasi darurat yang sudah diuji.
Dari sisi parameter terapi, materi webinar Terapi Oksigen Hiperbarik dari LMS Kementerian Kesehatan RI menyebut HBOT umumnya diberikan pada tekanan sekitar 1 hingga 3 atm, dengan durasi sesi biasanya 90 hingga 120 menit. Mayo Clinic menyebut tekanan dinaikkan sekitar 2 hingga 3 kali tekanan udara normal, dan sesi untuk sebagian besar kondisi berlangsung 1,5 hingga 2 jam. Perbedaan kisaran ini menunjukkan bahwa nilai yang dipakai klinik harus ditetapkan oleh dokter penanggung jawab sesuai indikasi dan protokol. Sejumlah sumber berita juga menyajikan durasi yang berbeda, sehingga klinik perlu memverifikasi protokolnya sendiri, bukan menyalin angka dari media.
Pengalaman pasien saat sesi pertama juga memengaruhi kepatuhan prosedur. Pengelola dapat menjelaskan persiapan dan barang yang boleh dibawa melalui panduan seperti sesi HBOT pertama kali, sehingga pemeriksaan barang di pintu chamber tidak menjadi momen yang membingungkan.
Daftar Periksa untuk Audit Internal
Agar kewajiban harian ini bisa diaudit, klinik dapat menyiapkan daftar periksa berkala. Beberapa butir yang bisa dimasukkan antara lain:
- SOP tertulis sudah disetujui Hyperbaric Safety Director dan Hyperbaric Medical Director, dengan tanggal revisi terakhir.
- Daftar barang terlarang dan prosedur keputusan barang di luar daftar tersedia dan dicatat.
- Setiap anggota tim memiliki catatan pelatihan yang diperbarui.
- Jadwal pemeriksaan dan pemeliharaan sesuai petunjuk pabrikan terdokumentasi.
- Catatan pemantauan sesi dan insiden tersimpan dan ditinjau secara berkala.
- Simulasi kedaruratan dilakukan dan hasilnya dievaluasi.
Daftar ini sebaiknya ditinjau bersama dokter penanggung jawab dan teknisi, karena keselamatan ruang bertekanan melibatkan aspek medis sekaligus teknis.
Peran Dokter dan Pilihan Chamber
Setiap keputusan terkait penggunaan medis harus melalui evaluasi dokter. SOP, pelatihan, dan audit tidak menggantikan penilaian klinis terhadap setiap pasien, termasuk pertimbangan kontraindikasi. Klinik yang ingin memahami batasan ini dapat membaca ulasan tentang persiapan membuka layanan HBOT di klinik sebagai gambaran awal sebelum menyusun prosedur.
Dari sisi pilihan alat, kebutuhan berbeda-beda tergantung jenis layanan dan indikasi. Untuk layanan medis, chamber monoplace banyak dipakai klinik karena privasi dan fleksibilitas penjadwalan pasien. Sebagai contoh, PT Habeote Nafas Murni memproduksi OTO-101, chamber monoplace medical grade dengan tekanan kerja 2,4 ATA. Namun, apa pun jenis chamber yang dipilih, SOP dan kompetensi tim tetap menjadi kewajiban yang harus berjalan setiap hari.
Kesimpulan: Keselamatan Harus Terlihat di Dokumen
Keselamatan hyperbaric chamber bukan hanya soal spesifikasi alat saat pembelian. Yang menentukan adalah apakah klinik memiliki SOP yang hidup, pengendalian barang yang konsisten, tim yang terlatih, dan catatan yang bisa diaudit. Dengan pendekatan ini, klinik tidak hanya siap menghadapi pemeriksaan regulator, tetapi juga memberi rasa aman bagi pasien dan tim.
Sumber
- FDA (U.S. Food and Drug Administration), Follow Instructions for Safe Use of Hyperbaric Oxygen Therapy Devices: Letter to Health Care Providers
- FDA (U.S. Food and Drug Administration), Hyperbaric Oxygen Therapy: Get the Facts
- LMS Kementerian Kesehatan RI, materi webinar Terapi Oksigen Hiperbarik
- Direktorat Mutu Tenaga Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI, Kurikulum Pelatihan Penatalaksanaan Pelayanan Terapi Oksigen Hiperbarik (TOHB) bagi Pengawak RUBT
- Undersea and Hyperbaric Medical Society (UHMS), MedFAQs: Item Approval
- Mayo Clinic, Hyperbaric Oxygen Therapy: About


