Media edukasi hyperbaric IndonesiaDikelola oleh Redaksi Hyperbaric Indonesia · Disclosure
HBOTNEWS
Bisnis Klinik · Rangkuman berita

RSUD Biak dan Hyperbaric Chamber: Contoh Layanan HBOT Rumah Sakit Daerah

Kunjungan Mendagri pada Agustus 2026 menyoroti hyperbaric chamber RSUD Biak, yang juga ditetapkan Kemenkes sebagai pusat penelitian hiperbarik. Apa yang bisa dipelajari rumah sakit daerah lain?

RSUD Biak dan Hyperbaric Chamber: Contoh Layanan HBOT Rumah Sakit Daerah

Kunjungan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian ke RSUD Biak Numfor pada 2 Agustus 2026 menjadi sorotan bagi dunia layanan hiperbarik di Papua. Dalam kunjungan itu, Tito terkejut melihat fasilitas hyperbaric chamber di rumah sakit tersebut, karena menurutnya fasilitas serupa belum ada di Provinsi Papua, termasuk Jayapura. Pemberitaan Cenderawasih Pos juga menilai fasilitas ini sangat bermanfaat untuk menangani pasien penyakit dekompresi yang sering dialami penyelam dan nelayan.

Dari Persiapan Event hingga Pusat Penelitian

Chamber RSUD Biak sebenarnya lebih dulu disiapkan untuk melayani pengobatan pasien selama kegiatan Sail Teluk Cenderawasih Biak 2023. Hal ini disampaikan direktur RSUD Biak, dr Ricardo Mayor, sebagaimana dikutip ANTARA News.

Perkembangan berikutnya datang dari Kementerian Kesehatan. Kemenkes menetapkan RSUD Kabupaten Biak Numfor sebagai pusat penelitian hyperbaric chamber di Indonesia, dan penetapan itu dilakukan bertepatan dengan Sail Teluk Cenderawasih Biak 2023. Bagi rumah sakit daerah lain, status ini menunjukkan bahwa layanan hiperbarik bisa tumbuh bersama riset, tidak hanya sebagai fasilitas pelayanan.

Memahami Dasar HBOT yang Dijelaskan Pengelola Rumah Sakit

Direktur RSUD Biak menjelaskan bahwa hyperbaric chamber merupakan metode pengobatan dengan oksigen 100 persen pada tekanan di atas tekanan atmosfer. Dalam penjelasan tersebut, peningkatan tekanan membuat paru-paru menyerap lebih banyak oksigen, yang dapat membantu proses penyembuhan.

Materi webinar hiperbarik yang tersedia di LMS Kementerian Kesehatan RI menyebutkan bahwa HBOT umumnya diberikan pada tekanan 1 hingga 3 atm, dengan durasi sesi biasanya 90 hingga 120 menit. Parameter dasar ini dapat menjadi acuan awal bagi pengelola rumah sakit ketika menyusun prosedur layanan. Namun, angka tersebut bukan pengganti penilaian klinis untuk setiap pasien.

Liputan6 juga mengutip bahwa HBOT perlu dilakukan oleh tenaga medis di fasilitas yang terakreditasi, dan jumlah sesinya ditentukan berdasarkan kondisi pasien. Penggunaan medis selalu memerlukan evaluasi dokter sebelum terapi dimulai, dan keputusan tentang jumlah sesi berada pada kondisi masing-masing pasien.

Pelajaran dari RSUD Biak bagi Rumah Sakit Daerah Lain

Ada beberapa pelajaran yang dapat diambil dari kasus RSUD Biak, terutama bagi rumah sakit daerah yang ingin mengembangkan layanan HBOT dengan dukungan riset dan standar medis:

  • Kebutuhan layanan jelas. Pemberitaan menyebut manfaat fasilitas ini bagi pasien penyakit dekompresi, kelompok yang dekat dengan kondisi kerja pesisir dan laut di Biak.
  • Riset sebagai bagian dari layanan. Penetapan sebagai pusat penelitian membuka ruang bagi pengumpulan pengalaman klinis yang lebih terstruktur.
  • Standar medis sejak awal. Parameter tekanan dan durasi yang bersumber dari Kemenkes dapat menjadi dasar SOP yang seragam.
  • Kepatuhan perizinan. Kemenkes menyatakan bahwa chamber yang dipakai untuk HBOT dengan oksigen murni termasuk alat kesehatan yang wajib didaftarkan.

Bagi rumah sakit yang sedang menimbang perangkat, penting diingat bahwa kebutuhan berbeda-beda tergantung jenis layanan dan indikasi. Chamber monoplace banyak dipakai klinik karena privasi dan fleksibilitas penjadwalan pasien. Sebagai contoh referensi, chamber monoplace medis OTO-101 buatan PT Habeote Nafas Murni memiliki tekanan kerja 2,4 ATA dan izin edar Kemenkes AKD 20403620255. Spesifikasi tersebut tetap perlu dicocokkan dengan kebutuhan layanan dan penilaian tim medis di fasilitas masing-masing.

Langkah Awal bagi Rumah Sakit yang Ingin Menyusul

Rumah sakit yang ingin membuka layanan serupa dapat memulainya dengan langkah yang bertahap:

  1. Memetakan kebutuhan pasien dan indikasi yang relevan dengan wilayah layanan, bersama dokter spesialis terkait.
  2. Menyiapkan tim yang kompeten dan SOP keselamatan, termasuk pemeriksaan sebelum sesi. Panduan lengkapnya dapat dibaca pada panduan keselamatan operasional dan kompetensi tim klinik HBOT.
  3. Memastikan perizinan dan dokumentasi alat sudah lengkap sebelum layanan dibuka.
  4. Menyusun rencana riset atau pencatatan hasil klinis yang dapat dievaluasi secara berkala.

Untuk pertimbangan operasional lain, termasuk persiapan fasilitas, pembaca juga dapat melihat ulasan tentang apa saja yang perlu disiapkan saat membuka layanan HBOT di klinik.

Menatap Perkembangan HBOT di Indonesia

Kisah RSUD Biak menunjukkan bahwa rumah sakit daerah dapat berperan dalam perkembangan HBOT di Indonesia, mulai dari layanan bagi pasien hingga kontribusi riset. Perhatian dari Mendagri dan penetapan dari Kemenkes menjadi sinyal positif bagi pengembangan layanan serupa di daerah lain.

Meski demikian, setiap layanan hiperbarik tetap memerlukan evaluasi dokter, pemilihan indikasi yang tepat, dan kepatuhan pada standar medis. Dengan pendekatan itu, HBOT dapat dikembangkan secara bertanggung jawab dan bermanfaat bagi masyarakat.

Sumber

Konsultasi

Jadwalkan kunjungan pabrik dan demo produk

Lihat langsung kualitas produksi dan cara kerja hyperbaric chamber Habeote sebelum memutuskan.