Terapi oksigen hiperbarik (HBOT) makin sering dibicarakan di Indonesia, mulai dari ruang klinik, forum tenaga kesehatan, hingga media kesehatan. Perkembangan ini positif karena membuka ruang edukasi yang lebih luas. Agar layanan berjalan tepat, pengelola klinik dan calon pengguna perlu memahami dulu apa yang dimaksud indikasi, mana yang sudah memiliki dasar resmi, dan mana yang masih diteliti atau sekadar klaim wellness.
Apa yang dimaksud indikasi resmi UHMS
Undersea and Hyperbaric Medical Society (UHMS) mendefinisikan HBO2 sebagai tindakan ketika seseorang menghirup oksigen hampir 100 persen di dalam chamber bertekanan lebih tinggi dari tekanan permukaan laut. Definisi ini menjadi titik awal penting karena HBOT adalah prosedur dengan parameter tekanan dan oksigen yang diatur secara cermat, bukan sekadar menghirup oksigen dalam ruangan bertekanan.
UHMS juga mencantumkan daftar indikasi yang diterima. Daftar ini menjadi rujukan utama untuk membedakan penggunaan yang sudah memiliki pijakan dari penggunaan yang belum. Kata kunci yang perlu diingat adalah ‘diterima’, karena setiap indikasi memiliki kondisi klinis spesifik yang harus dinilai.
Cara membaca daftar indikasi UHMS
Dalam daftar UHMS, contoh indikasi yang tercantum mencakup emboli udara atau gas, cedera akibat radiasi tertunda, perbaikan cangkok dan flap yang terganggu, luka bakar termal akut, hingga gangguan pendengaran sensorineural mendadak idiopatik. Indikasi terakhir disebut sebagai indikasi ke-14 dalam daftar, dan disetujui oleh Dewan Direksi UHMS pada 8 Oktober 2011.
Sebagai pembanding, sebuah uji klinis merujuk daftar lain yang mencakup keracunan karbon monoksida, penyakit dekompresi, miositis dan mionekrosis klostridial, sindrom kompartemen, serta infeksi jaringan lunak nekrotikans. Daftar rujukan uji klinis tidak otomatis sama dengan daftar resmi UHMS, sehingga pembaca perlu memeriksa sumber setiap daftar sebelum menyimpulkan.
Ada tiga pertanyaan sederhana yang bisa dipakai saat membaca daftar indikasi. Pertama, apakah kondisinya tercantum dalam daftar resmi. Kedua, apakah pasien sesuai dengan kondisi yang dimaksud. Ketiga, apakah keputusan terapi sudah dibahas bersama dokter yang memeriksa pasien.
Indikasi yang masih berkembang
Sebuah tinjauan ilmiah di PMC membedakan indikasi UHMS yang sudah disetujui saat ini dari indikasi yang masih berkembang. Contohnya adalah long COVID, kalsifilaksis, dan beberapa penyakit radang usus. Penelitian menunjukkan minat yang besar pada area ini, dan sebagian studi memberi gambaran awal yang menjanjikan. Namun, status ‘berkembang’ berarti bukti masih terus diuji, sehingga penggunaannya belum setara dengan indikasi resmi.
Bagi klinik, perbedaan ini penting untuk komunikasi. Kalimat seperti ‘penelitian menunjukkan’ atau ‘dapat membantu dalam kondisi tertentu’ lebih tepat dibanding janji hasil. Pengelola juga sebaiknya menjelaskan bahwa indikasi yang masih berkembang berada di luar daftar resmi dan memerlukan penilaian dokter yang lebih ketat.
Penggunaan di luar daftar dan batas klaim wellness
Penggunaan di luar daftar indikasi resmi bukan berarti otomatis salah, tetapi harus dijelaskan dengan jujur kepada pasien. Klaim wellness, seperti ‘anti-aging’ atau ‘pemulihan umum’, umumnya tidak berada dalam daftar indikasi resmi UHMS. Karena itu, klinik perlu membedakan secara tegas antara layanan medis dan layanan kebugaran.
Dari sisi regulasi, Kemenkes menyatakan bahwa chamber yang dipakai untuk HBOT dengan oksigen murni termasuk alat kesehatan yang wajib didaftarkan. Pembahasan lebih lanjut tentang perbedaan jenis chamber dan kewajiban izin edar dapat dibaca pada ulasan medical grade dan wellness grade. Sebagai contoh, chamber monoplace medical grade OTO-101 dari PT Habeote Nafas Murni memiliki tekanan kerja 2,4 ATA dan izin edar Kemenkes AKD 20403620255, sehingga bisa dijadikan rujukan spesifikasi bagi klinik yang ingin memastikan legalitas alatnya. Produk ini dapat dilihat di halaman OTO-101.
Peran dokter dan tenaga kesehatan
Artikel media kesehatan pada Agustus 2026 menyebut HBOT dapat digunakan pada sejumlah kondisi medis tertentu, termasuk keracunan karbon monoksida dan penyakit dekompresi, sesuai indikasi dan penilaian dokter. Pesan ini sejalan dengan prinsip dasar: penggunaan medis selalu memerlukan evaluasi dokter.
Kabar baiknya, ekosistem edukasi untuk tenaga kesehatan terus berkembang. Webinar Kemenkes tahun 2025 membahas mekanisme, peran klinis, dan pembaruan protokol HBOT bagi dokter dan perawat. Direktorat Mutu Tenaga Kesehatan Kemenkes juga menyediakan pelatihan penatalaksanaan keperawatan dasar pada pasien terapi hiperbarik, termasuk materi kebijakan pengelolaan unit dan manajemen peralatan. Perkembangan seperti ini memperkuat kualitas layanan di Indonesia.
Pembaca yang ingin memahami siapa yang sebaiknya tidak menjalani sesi juga perlu membaca panduan kontraindikasi HBOT sebelum memutuskan.
Ringkasan perbedaan yang perlu dipahami
| Kategori | Contoh | Catatan untuk klinik dan pengguna |
|---|---|---|
| Indikasi resmi UHMS | Emboli udara atau gas, luka bakar termal akut, gangguan pendengaran sensorineural mendadak idiopatik | Tercantum dalam daftar UHMS; tetap perlu penilaian dokter |
| Indikasi yang masih berkembang | Long COVID, kalsifilaksis, beberapa penyakit radang usus | Bukti masih diuji; sampaikan dengan bahasa hati-hati |
| Di luar daftar | Klaim wellness atau pemulihan umum | Bukan indikasi resmi; jangan dijanjikan sebagai hasil pasti |
Langkah praktis bagi klinik dan calon pengguna
Agar layanan HBOT di Indonesia dijalankan sesuai indikasi dan penilaian dokter, ada beberapa langkah yang bisa diterapkan:
- Pastikan setiap layanan memiliki dasar indikasi yang jelas dan didokumentasikan.
- Libatkan dokter dalam setiap keputusan terapi, termasuk untuk pasien dengan kondisi di luar daftar.
- Pisahkan komunikasi layanan medis dari layanan kebugaran agar pasien tidak salah paham.
- Periksa legalitas chamber, termasuk status izin edar sebagai alat kesehatan.
- Gunakan bahasa yang berhati-hati dan hindari janji hasil dalam promosi.
Pada akhirnya, pemahaman yang baik tentang indikasi resmi UHMS adalah modal utama bagi pengelola klinik dan calon pengguna. Dengan membaca daftar secara cermat, membedakan bukti yang sudah mapan dari yang masih berkembang, dan melibatkan dokter sejak awal, HBOT dapat berkembang di Indonesia secara bertanggung jawab.
Sumber
- Undersea and Hyperbaric Medical Society (UHMS), UHMS Credentialing and Privileging Guide, 31 Januari 2018
- Undersea and Hyperbaric Medical Society (UHMS), Daftar Indikasi HBO, 8 Oktober 2011
- PMC (National Center for Biotechnology Information), tinjauan ilmiah indikasi HBOT
- LMS Kementerian Kesehatan RI, webinar HBOT 2025
- Direktorat Mutu Tenaga Kesehatan, Kemenkes RI, pelatihan penatalaksanaan keperawatan dasar pada pasien terapi hiperbarik
- Republika Ameera, artikel HBOT, 12 Agustus 2026