Media edukasi hyperbaric IndonesiaDikelola oleh Redaksi Hyperbaric Indonesia · Disclosure
HBOTNEWS
Edukasi & Panduan · Panduan

Monoplace vs Multiplace: Cara Jenis Hyperbaric Chamber Memengaruhi Layanan HBOT

Kapasitas, kebutuhan tenaga, dan tata ruang monoplace serta multiplace perlu dipahami pengelola RS dan klinik sebelum memilih chamber yang sesuai dengan indikasi layanan.

Ruang layanan terapi oksigen hiperbarik (Hyperbaric Oxygen Therapy Centre).
Ruang layanan terapi oksigen hiperbarik (Hyperbaric Oxygen Therapy Centre). Foto: Mark Anderson / Wikimedia Commons, CC BY-SA 2.0

Memilih jenis hyperbaric chamber bukan hanya soal harga atau ukuran ruangan. Keputusan ini memengaruhi berapa pasien yang bisa dilayani, berapa tenaga yang dibutuhkan, dan bagaimana alur kerja klinik berjalan. Bagi pengelola rumah sakit dan klinik, memahami perbedaan monoplace dan multiplace menjadi langkah awal yang berguna sebelum berdiskusi dengan pemasok maupun tim medis.

Mengenal Dua Jenis Dasar Chamber

Menurut Undersea & Hyperbaric Medical Society (UHMS), dua jenis dasar chamber klinis adalah monoplace dan multiplace. Monoplace memungkinkan perawatan satu pasien dalam satu waktu di lingkungan oksigen 100 persen. Tinjauan Bochicchio (2019) yang diterbitkan di PMC menggambarkan monoplace sebagai tabung akrilik transparan untuk satu pasien yang berbaring, dan jenis ini dinilai lebih ringan serta lebih murah dipasang di ruang medis yang sudah ada.

Bagian dalam chamber multiplace untuk terapi oksigen hiperbarik.
Bagian dalam chamber multiplace untuk terapi oksigen hiperbarik. Foto: Peter Freitag / Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0

Multiplace bekerja dengan cara berbeda. Chamber ini menampung dua hingga 20 pasien dan diisi udara terkompresi, sehingga pasien bernapas oksigen melalui masker atau hood. StatPearls di NCBI Bookshelf mencatat bahwa operasinya membutuhkan tenaga terlatih, baik di dalam maupun di luar chamber.

Kapasitas dan Kebutuhan Tenaga

Perbedaan kapasitas langsung terasa pada organisasi layanan. Pada monoplace, satu operator luar yang terlatih dapat mengawasi hingga dua sesi secara bersamaan, tetapi ia harus tetap berada di luar chamber selama sesi berlangsung. Pola ini membuat jumlah sesi per hari dan jadwal pengawasan perlu dihitung dengan cermat. Banyak klinik memilih monoplace karena privasi pasien dan fleksibilitas penjadwalan yang lebih mudah diatur. Gambaran spesifikasi monoplace medis dapat dilihat pada halaman produk OTO-101, yakni chamber monoplace medical grade bertekanan kerja 2.4 ATA dengan izin edar Kemenkes.

Pada multiplace, kapasitas per sesi lebih besar, tetapi kebutuhan tenaga dan koordinasi di dalam serta di luar chamber juga lebih kompleks. Tinjauan lama mencatat bahwa chamber multi-okupansi dibutuhkan untuk pasien kritis yang memerlukan pendamping di dalam chamber, sedangkan monoplace dapat digunakan untuk kondisi kronis. Gambaran ini menunjukkan bahwa jenis chamber sebaiknya mengikuti kebutuhan kasus dan jenis layanan, bukan anggapan bahwa satu jenis selalu lebih unggul.

Tata Ruang dan Kesiapan Instalasi

Dari sisi tata ruang, StatPearls mencatat bahwa monoplace dapat dipasang di ruang rawat standar rumah sakit dan dihubungkan ke pasokan oksigen serta udara rumah sakit. Fleksibilitas ini membuat monoplace relevan bagi fasilitas yang ingin memulai layanan dengan memanfaatkan ruang yang sudah tersedia. Meski demikian, setiap instalasi tetap memerlukan perencanaan teknis, termasuk kesesuaian pasokan gas dan kajian risiko internal.

Tampilan bagian dalam chamber multiplace untuk terapi oksigen hiperbarik, dengan pintu kedap udara menuju ruang masuk (entry lock) dalam posisi tertutup.
Tampilan bagian dalam chamber multiplace untuk terapi oksigen hiperbarik, dengan pintu kedap udara menuju ruang masuk (entry lock) dalam posisi tertutup. Foto: Marco Tonini / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Untuk multiplace, pengelola perlu menilai kebutuhan ruang dan operasional yang lebih besar. Kode praktik Eropa untuk HBOT (tinjauan 2022) menyebutkan bahwa perbedaan antara kedua jenis chamber umumnya terletak pada aspek teknis desain, perawatan, dan pengoperasian. Dengan kata lain, pemahaman tentang aspek teknis inilah yang perlu didiskusikan sejak awal perencanaan.

Keselamatan dan Edukasi Berlaku untuk Keduanya

Satu hal perlu ditekankan: prinsip keselamatan tidak bergantung pada jenis chamber. Kode praktik Eropa tersebut menyatakan bahwa aspek edukasi staf, prosedur keselamatan, dan kontrol medis wajib diterapkan sama baik pada fasilitas monoplace maupun multiplace, karena kondisi medis dan prinsip terapinya sama. Pelatihan tim, SOP, dan pemeriksaan kondisi pasien tetap menjadi fondasi di kedua jenis fasilitas. Pembaca yang ingin menyusun prosedur dapat membaca panduan keselamatan operasional dan kompetensi tim klinik HBOT.

Kode yang sama juga mencatat bahwa regulasi khusus untuk monoplace belum ada pada saat itu. Dalam kondisi tersebut, direktur medis bertanggung jawab atas penilaian risiko setiap instalasi. Bagi pengelola klinik, catatan ini menjadi pengingat bahwa penilaian internal yang terdokumentasi sangat penting, sekaligus peluang untuk terus memperkuat praktik yang baik melalui pedoman dan diskusi profesi.

Indikasi Menentukan Kebutuhan Layanan

Pilihan jenis chamber sebaiknya dimulai dari indikasi yang akan dilayani. Dalam registri multisenter UHMS yang dipublikasikan pada kuartal kedua 2026, tiga indikasi paling umum adalah cedera radiasi tertunda, graft dan flap yang terganggu, serta keracunan karbon monoksida. Daftar ini menunjukkan bahwa kebutuhan rumah sakit bisa berbeda dengan kebutuhan klinik yang berfokus pada layanan tertentu.

Evaluasi dokter tetap menjadi syarat utama untuk penggunaan medis. Pembaca juga dapat membandingkan daftar indikasi resmi dengan klaim pemasaran sebelum memutuskan layanan. Pembahasan lebih lengkap tersedia dalam panduan indikasi resmi HBOT menurut UHMS.

Layanan Pendukung di Klinik: Contoh Pemisahan yang Jelas

Tidak semua layanan di klinik bersifat HBOT. Chirobone, klinik bone setting di Bintaro dan Gading Serpong, menyediakan layanan bone setting, akupunktur, dan sport massage. Bone setting bukan terapi sel punca dan bukan HBOT, sehingga klinik perlu menjelaskan batas setiap layanan kepada pasien. Pemisahan yang jelas seperti ini membantu pasien memahami apa yang sedang mereka jalani. Informasi perbandingan perawatan di Chirobone dapat dibaca melalui panduan memilih perawatan di Chirobone.

Pertanyaan Praktis Sebelum Memilih

Sebelum memutuskan jenis chamber, pengelola dapat mempertimbangkan beberapa pertanyaan berikut:

  • Indikasi apa yang paling sering akan dilayani, dan apakah jenis chamber sesuai dengan kebutuhan pasien tersebut?
  • Berapa jumlah tenaga terlatih yang tersedia di dalam dan di luar chamber, serta bagaimana jadwal pengawasan sesinya?
  • Apakah ruang, pasokan oksigen, dan pasokan udara sudah sesuai untuk instalasi yang direncanakan?
  • Bagaimana penilaian risiko didokumentasikan oleh direktur medis, dan siapa yang mengevaluasinya secara berkala?
  • Apakah produk memiliki izin edar yang sesuai dan jelas prosedur perawatannya?

Kesimpulan

Monoplace dan multiplace sama-sama memiliki peran dalam layanan HBOT, dengan kelebihan dan tantangan masing-masing dari sisi kapasitas, tenaga, dan tata ruang. Perkembangan layanan HBOT di Indonesia, termasuk di rumah sakit dan klinik, dapat berjalan lebih baik ketika pengelola memulai dari indikasi, kebutuhan pasien, dan prinsip keselamatan yang sama untuk semua jenis fasilitas. Keputusan akhir tetap perlu didasarkan pada evaluasi dokter dan penilaian risiko yang terdokumentasi.

Untuk keluhan otot, sendi, atau postur, salah satu pilihan perawatan konservatif adalah bone setting. Chirobone, klinik bone setting di Bintaro dan Gading Serpong, juga menyediakan akupuntur dan sport massage. Bone setting bukan terapi sel punca maupun HBOT, dan keluhan berat tetap perlu dievaluasi dokter. Informasi cabang ada di situs resmi Chirobone.

Sumber

Konsultasi

Jadwalkan kunjungan pabrik dan demo produk

Lihat langsung kualitas produksi dan cara kerja hyperbaric chamber Habeote sebelum memutuskan.