Media edukasi hyperbaric IndonesiaDikelola oleh Redaksi Hyperbaric Indonesia · Disclosure
HBOTNEWS
Berita Industri · Analisis

HBOT Luka Kronis dalam Alur Wound Care Center Rumah Sakit

Mayapada Hospital Bandung meresmikan Wound Care Center pada Juni 2026. Dalam alur perawatan tersebut, HBOT dapat menjadi terapi tambahan untuk indikasi tertentu, dengan keputusan berada di tangan dokter.

Ruang kamar tempat dokter menjalankan praktik kedokteran hiperbarik.
Ruang kamar tempat dokter menjalankan praktik kedokteran hiperbarik. Foto: Paulbuza / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Kebutuhan layanan perawatan luka kronis di Indonesia terus bertambah. Media Indonesia melaporkan bahwa jumlah kasus luka kronis di Kota Bandung naik dari waktu ke waktu. Menanggapi kondisi itu, Mayapada Hospital Bandung meresmikan Wound Care Center pada 25 Juni 2026. Diabetes disebut sebagai penyebab terbanyak, disusul luka pascaoperasi yang tidak kunjung membaik.

Wound care center sebagai pusat alur perawatan

Menurut pemberitaan CNN Indonesia, layanan tersebut menangani luka diabetes, luka pascaoperasi, luka akibat kanker, serta bekas luka seperti keloid dan hipertrofik. Penanganannya dilakukan oleh tim dokter multidisiplin dengan clinical pathway yang terstruktur, sehingga setiap pasien memiliki alur yang jelas dari awal hingga pemantauan pemulihan.

Kamar hiperbarik bertipe Jacobi yang digunakan untuk terapi oksigen hiperbarik.
Kamar hiperbarik bertipe Jacobi yang digunakan untuk terapi oksigen hiperbarik. Foto: Amqw23 / Wikimedia, CC BY-SA 4.0

Layanan ini juga didukung kemitraan dengan PT Darya-Varia Laboratoria Tbk. Kemitraan tersebut mencakup penyediaan Negative Pressure Wound Therapy (NPWT) dan modern dressing sebagai bagian dari manajemen luka. Pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa perawatan luka modern bertumpu pada kombinasi beberapa metode, bukan satu terapi saja.

Pihak rumah sakit menegaskan bahwa keberhasilan penanganan luka kronis tidak hanya diukur dari tertutupnya luka. Menurut Kompas.com, ukuran keberhasilan juga mencakup upaya menjaga fungsi organ dan mencegah komplikasi. Cara pandang ini penting bagi pengelola klinik yang ingin menilai layanan secara lebih utuh.

Mengapa penanganan luka perlu menyeluruh

Penanganan luka kronis dinilai perlu dilakukan secara menyeluruh. Tahapannya meliputi pembersihan dan perawatan luka, pengendalian faktor penyebab seperti gula darah yang tidak terkontrol, edukasi perawatan mandiri di rumah, serta pemantauan pemulihan. Rangkaian ini dimaksudkan untuk mencegah komplikasi dan menurunkan risiko amputasi, sebagaimana diberitakan CNN Indonesia.

Dalam konteks ini, terapi tambahan hanya menjadi salah satu bagian dari rencana besar. Keputusan klinis tetap bertumpu pada perawatan standar yang sudah berjalan.

Di mana HBOT masuk dalam alur perawatan

Terapi oksigen hiperbarik (HBOT) sebaiknya dipahami sebagai terapi tambahan, bukan pengganti perawatan luka standar. Seorang dokter di Indonesia yang diwawancarai Republika Ameera menyatakan bahwa HBOT tidak otomatis menjadi terapi untuk semua kondisi kesehatan. Penggunaannya perlu disesuaikan dengan indikasi medis dan kondisi tiap pasien.

Foto ilustrasi.
Foto ilustrasi. Foto: Peter Southwood / Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0

Pemberitaan Media Indonesia pada September 2026 menambahkan bahwa terapi sebaiknya dilakukan di fasilitas dengan peralatan sesuai standar dan tenaga terlatih. Pasien juga perlu menjalani evaluasi terlebih dahulu. Pembaca yang ingin memahami batas bukti pada luka kaki diabetes dapat membaca HBOT untuk Luka Kaki Diabetes: Kapan Bukti Kuat dan Kapan Belum Cukup.

Indikasi menurut registri dan panduan UHMS

Undersea and Hyperbaric Medical Society (UHMS) mencatat tiga indikasi tersering dalam registri multisenter HBOT sepanjang 2025. Ketiganya adalah cedera radiasi tertunda, graft dan flap yang terganggu, serta keracunan karbon monoksida. Dua indikasi pertama berkaitan dengan jaringan yang sulit pulih, sehingga relevan dengan pembahasan luka. Meski demikian, data registri tetap perlu dibaca dalam konteks setiap pasien.

Sebuah studi registri dengan data hingga Mei 2024 yang dipublikasikan di PubMed Central mencatat UHMS telah mengidentifikasi 15 kondisi yang dapat dipertimbangkan sebagai indikasi HBO2 yang disetujui. Studi yang sama menyebut bahwa ratusan kasus di luar daftar tersebut masih memerlukan kajian lebih lanjut. Di sisi regulasi, UHMS memperbarui panduan kredensialing, pemberian hak klinis (privileging), dan supervisi HBOT pada revisi April 2026. Fasilitas yang ingin membuka layanan dapat menjadikan panduan semacam ini sebagai acuan tata kelola.

Untuk kasus yang berkaitan dengan keracunan karbon monoksida, pembahasan penanganan resmi dan bukti HBOT dari Stem Cells Indonesia juga dapat dijadikan bahan bacaan tambahan.

Peran fasilitas dan pilihan peralatan

Dari sisi peralatan, chamber monoplace dirancang untuk satu pasien dan tersedia dalam struktur keras maupun lunak. Chamber multiplace dapat menampung beberapa pasien sekaligus. Selama terapi, tenaga medis memantau tekanan dan pemberian oksigen. Kebutuhan setiap fasilitas berbeda-beda tergantung jenis layanan dan indikasi. Meski begitu, chamber monoplace banyak dipakai klinik karena privasi pasien dan fleksibilitas penjadwalan.

Pengelola fasilitas juga perlu memperhatikan status izin edar. Chamber yang dipakai untuk HBOT dengan oksigen murni termasuk alat kesehatan yang wajib didaftarkan, sehingga tidak dapat diperlakukan sama dengan produk wellness biasa. Sebelum bekerja sama dengan pemasok, pengelola dapat memeriksa dokumen perizinan secara langsung. Panduan memeriksa izin layanan juga tersedia di Stem Cells Indonesia, meskipun topiknya berbeda.

Pembaca yang sedang menyusun daftar pertanyaan untuk fasilitas dapat membaca Cara Memilih Layanan HBOT yang Tepat: Pertanyaan yang Perlu Diajukan ke Fasilitas. Panduan ini membantu membandingkan alur rujukan, kualifikasi tim, dan prosedur keselamatan.

Perkembangan layanan luka kronis di rumah sakit seperti di Bandung menunjukkan bahwa minat terhadap perawatan luka yang komprehensif terus tumbuh. Dengan posisi HBOT sebagai terapi tambahan dan keputusan di tangan dokter, layanan dapat berjalan lebih terarah. Bagi rumah sakit atau klinik yang sedang menyiapkan layanan wound care dan HBOT untuk indikasi medis, chamber monoplace OTO-101 dari Habeote, dengan tekanan kerja 2.4 ATA, dapat menjadi bahan pertimbangan. Silakan jadwalkan demo atau konsultasi untuk membahas kebutuhan fasilitas Anda.

Bagi rumah sakit dan klinik yang menyiapkan layanan oksigen hiperbarik, PT Habeote Nafas Murni, produsen hyperbaric chamber monoplace di Indonesia memproduksi hyperbaric chamber monoplace OTO-101 (2.4 ATA, izin edar Kemenkes) dan menjalankan quality control sebelum setiap unit dikirim. Lihat katalog chamber Habeote.

Sumber

Konsultasi

Jadwalkan kunjungan pabrik dan demo produk

Lihat langsung kualitas produksi dan cara kerja hyperbaric chamber Habeote sebelum memutuskan.