Pegal di punggung, leher, dan bahu sering dirasakan pekerja kantoran setelah berjam-jam duduk di depan layar. Artikel ini merangkum apa yang didukung bukti tentang sport massage, lalu menjelaskan kapan keluhan sebaiknya diperiksakan ke dokter. Bagi warga Bintaro dan sekitarnya, pembahasan bukti ilmiah tentang pijat dan akupuntur juga dapat menjadi bahan pertimbangan yang berguna.
Apa yang didukung bukti tentang sport massage?
Sport massage adalah pijat yang biasa dipakai atlet dan orang yang aktif berolahraga untuk membantu pemulihan. Bukti ilmiahnya menunjukkan manfaat yang terbatas, terutama pada aspek performa fisik.
Tinjauan sistematis dan meta-analisis 2020 terhadap 29 studi acak tidak menemukan bukti bahwa sport massage meningkatkan kekuatan, lompat, sprint, atau daya tahan. Tinjauan yang sama juga tidak menemukan bukti penurunan kelelahan.
Meski demikian, tinjauan tersebut mencatat peningkatan kecil pada fleksibilitas serta pada nyeri otot tertunda (DOMS). Meta-analisis 2016 juga menyimpulkan bahwa efek massage terhadap pemulihan performa cenderung kecil.
Ulasan berbasis PMC menyatakan bahwa bukti pemulihan otot secara fisiologis dari massage masih sedikit, sementara bukti mendukung efek psikologis yang positif. Tinjauan sistematis 2022 pada pemain sepak bola profesional menyimpulkan bahwa massage dapat direkomendasikan untuk pemulihan hingga 72 jam pascapertandingan pada tingkat persepsi, bukan pada parameter fisiologis.
| Aspek | Temuan yang tercatat | Sumber |
|---|---|---|
| Kekuatan, lompat, sprint, daya tahan | Tidak ditemukan bukti peningkatan | PubMed, 2020 |
| Kelelahan | Tidak ditemukan bukti penurunan | PubMed, 2020 |
| Fleksibilitas dan DOMS | Peningkatan kecil | PubMed, 2020 |
| Pemulihan performa secara umum | Efek cenderung kecil | PubMed, 2016 |
| Pemulihan pascapertandingan pada pemain sepak bola profesional | Direkomendasikan pada tingkat persepsi, bukan parameter fisiologis | PubMed, 2022 |
| Efek psikologis | Bukti mendukung efek positif | PMC |
Bagaimana posisi kerja memengaruhi pegal punggung?
Posisi kerja yang kurang tepat dapat memicu pegal dan nyeri punggung. Kemenkes menyebut posisi duduk yang kurang tepat dan tidak ergonomis dapat menimbulkan ketegangan otot dan nyeri punggung bawah.
Menurut Kemenkes, sebagaimana dikutip RRI.co.id, kebiasaan membungkuk, kepala tidak tegak, pandangan ke bawah, dan pola kerja monoton dapat memicu low back pain. Duduk lama juga berkaitan dengan kondisi ini.
Kemenkes merujuk posisi kerja yang benar di depan komputer, dengan jarak mata ke layar sekitar 45 hingga 60 cm dan punggung bersandar pada kursi. Untuk pekerja yang berada dalam posisi statis selama 4 jam atau lebih, Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Kemenkes menyarankan peregangan sekitar 5 hingga 10 menit untuk punggung, leher, dan bahu.
Langkah kecil apa yang bisa dilakukan di kantor?
Beberapa kebiasaan sederhana dapat dimulai dari meja kerja sendiri. Berikut langkah yang sejalan dengan rujukan Kemenkes.
- Atur tinggi layar dan jarak mata sekitar 45 hingga 60 cm.
- Bersandar pada kursi dan jaga punggung tetap tegak saat mengetik atau membaca dokumen.
- Bangun dan lakukan peregangan singkat sekitar setiap 30 menit, untuk menjaga sirkulasi dan mengurangi kekakuan otot.
- Variasikan pekerjaan agar pola kerja tidak monoton, misalnya dengan berjalan ke ruang lain sejenak.
Langkah-langkah ini bersifat pendukung, sedangkan keluhan yang menetap tetap perlu diperiksakan ke dokter. Pembaca yang ingin memahami lebih jauh topik gerak tubuh dan pemulihan bisa membaca ulasan HBOT untuk kondisi muskuloskeletal dan pemulihan atlet.
Kapan keluhan punggung sebaiknya diperiksakan ke dokter?
Keluhan punggung sebaiknya diperiksakan ke dokter apabila tidak kunjung reda. Anjuran ini disampaikan oleh Kemenkes melalui Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan.
Dokter dapat menilai penyebab keluhan dan menentukan langkah yang sesuai. Penjelasan mengenai peran dokter dan rujukan dapat dibaca pada panduan dari keluhan ke keputusan perawatan.
Bone setting di Chirobone: pilihan konservatif yang perlu dipahami
Bone setting adalah perawatan konservatif, yaitu penanganan tanpa pembedahan yang dipilih sebagian orang untuk keluhan otot dan tulang. Chirobone, klinik bone setting di Bintaro dan Gading Serpong, juga menyediakan akupuntur dan sport massage.
Perlu dibedakan antara praktik secara umum dan layanan tertentu. Laporan kasus 2024 di Indonesia mencatat bahwa bone setting tradisional banyak dicari masyarakat, tetapi dokumentasi hasil dan potensi komplikasinya masih terbatas. Temuan tersebut menggambarkan praktik tradisional secara umum dan tidak otomatis berlaku untuk layanan Chirobone.
Laporan yang sama menyebut komplikasi serius pada fraktur umumnya terjadi pada penanganan oleh orang yang tidak dilatih secara formal. Karena itu, pemilihan praktisi yang terlatih menjadi hal penting. Kemenkes, sebagaimana dikutip Kompas, menyatakan praktik pengobatan tradisional harus terstandar, mendapat izin resmi, dan diakui melalui surat terdaftar penyehat tradisional, dengan regulasi rujukan PP 103/2014 dan Permenkes 15/2018.
Apa yang perlu ditanyakan sebelum memilih layanan?
Calon pengguna sebaiknya mengajukan beberapa pertanyaan sebelum menentukan pilihan. Daftar berikut dapat dipakai sebagai pegangan.
- Latar belakang pelatihan praktisi dan izin praktik yang dimiliki.
- Apakah keluhan sudah pernah diperiksakan ke dokter, terutama jika nyeri tidak kunjung reda.
- Apa yang dilakukan jika keluhan tidak membaik atau justru bertambah.
- Apakah layanan yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan, yakni pegal akibat kerja atau kebugaran.
Pertanyaan tersebut membantu calon pengguna membedakan layanan kebugaran dari keluhan yang memerlukan penanganan medis. Pembaca yang ingin melihat pilihan peralatan di bidang terapi oksigen hiperbarik dapat membuka katalog chamber HBOTNews.
Untuk keluhan otot, sendi, atau postur, salah satu pilihan perawatan konservatif adalah bone setting. Chirobone, klinik bone setting di Bintaro dan Gading Serpong, juga menyediakan akupuntur dan sport massage. Bone setting bukan terapi sel punca maupun HBOT, dan keluhan berat tetap perlu dievaluasi dokter. Informasi cabang ada di situs resmi Chirobone.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah sport massage bisa mengatasi pegal akibat kerja kantor?
Belum ada bukti kuat bahwa sport massage memulihkan otot secara fisiologis. Ulasan berbasis PMC menyatakan bukti fisiologisnya masih sedikit, tetapi bukti mendukung efek psikologis yang positif, sehingga massage dapat dipertimbangkan sebagai pilihan yang menenangkan.
Kapan nyeri punggung harus diperiksakan ke dokter?
Nyeri punggung sebaiknya diperiksakan ke dokter bila tidak kunjung reda. Anjuran ini disampaikan oleh Kemenkes, dan dokter dapat menilai penyebab keluhan serta menentukan langkah berikutnya.
Apa itu bone setting?
Bone setting adalah perawatan konservatif, yaitu penanganan tanpa pembedahan yang dipilih sebagian orang untuk keluhan otot dan tulang. Hasil dan keamanannya perlu dibicarakan dengan dokter.
Apakah bone setting di Chirobone sama dengan HBOT?
Tidak. Bone setting bukan terapi sel punca dan bukan HBOT, sehingga keduanya perlu dibedakan saat memilih layanan.
Seberapa sering sebaiknya bangun saat bekerja duduk?
Kemenkes menyarankan bangun dan melakukan peregangan singkat sekitar setiap 30 menit saat bekerja duduk. Langkah ini ditujukan untuk menjaga sirkulasi dan mengurangi kekakuan otot.
Sumber
- Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kemenkes, Waspada Low Back Pain Saat Bekerja
- RRI.co.id (mengutip Kementerian Kesehatan), Punggung Sakit Tak Selalu karena Salah Duduk
- UPK Kemenkes, Kerja Duduk Berjam-jam, Waspadai Risiko yang Diam-diam Mengintai
- Kemenkes (Keslan), Mengenali Sikap Ergonomis dalam Bekerja
- Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Kemenkes, Kelelahan Kerja dan Cara Mengatasinya
- PubMed, Effect of sports massage on performance and recovery, 2020
- PubMed, Massage and Performance Recovery: A Meta-Analytical Review, 2016
- PMC, Does Massage Help Athletes After Exercise?
- PubMed, Management of dead limb following traditional practices in Indonesia, 2024
- Kompas (mengutip Kemenkes), Praktik Pengobatan Alternatif Perlu Dipantau dan Dievaluasi

Foto: ד"ר יהודה מלמד עין הוד / Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0
Foto: Paulbuza / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0
Foto: Mckeeman at English Wikipedia / Wikimedia Commons, CC BY 3.0