Rekam medis HBOT adalah catatan layanan terapi oksigen hiperbarik yang merekam setiap tahap, mulai dari evaluasi awal, pelaksanaan sesi, hingga tindak lanjut. Di klinik, pencatatan ini bukan sekadar urusan administrasi. Dokumen tersebut menjadi dasar bagi dokter untuk menilai perkembangan pasien dan menentukan kelanjutan terapi.
Panduan ini merangkum data apa saja yang wajar dicatat, mengapa evaluasi berkala penting, serta pertanyaan yang dapat diajukan pasien kepada tim klinik.
Apa saja yang wajib dicatat dalam rekam medis setiap sesi HBOT?
Permenkes Nomor 24 Tahun 2022 menetapkan isi minimal rekam medis, sedangkan standar akreditasi klinik dan pernyataan posisi UHMS merinci data tambahan yang relevan untuk sesi hiperbarik. Ketiganya dapat dijadikan acuan bersama oleh tim klinik.
| Sumber | Data yang disebutkan untuk dicatat |
|---|---|
| Permenkes Nomor 24 Tahun 2022 | Identitas pasien, hasil pemeriksaan fisik dan penunjang, diagnosis, pengobatan, rencana tindak lanjut, serta nama dan tanda tangan tenaga kesehatan pemberi layanan |
| Kepmenkes HK.01.07/MENKES/1983/2022 (rawat jalan klinik) | Tanggal dan waktu, diagnosis, pengobatan atau tindakan, rencana tindak lanjut, serta persetujuan tindakan bila diperlukan |
| Pernyataan posisi UHMS (2024) | Waktu tindakan, nomor sesi, protokol, diagnosis, tanda vital sebelum dan sesudah, komplikasi, serta perbaikan atau tidak adanya perbaikan |
Dengan gabungan tersebut, catatan setiap sesi dapat memuat nomor sesi, protokol yang dipakai, tanda vital, dan kondisi pasien setelah sesi selesai. Komplikasi, bila ada, juga perlu dicatat secara jelas agar riwayatnya dapat ditelusuri.
Permenkes yang sama mewajibkan setiap fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk klinik, menyelenggarakan rekam medis elektronik. Karena itu, format catatan sesi sebaiknya dirancang sejak awal agar mudah diisi dan dibaca ulang oleh dokter.
Mengapa evaluasi sebelum dan sesudah sesi penting?
Evaluasi sebelum dan sesudah sesi membantu dokter memastikan pasien layak menjalani terapi dan melihat responsnya. Undersea and Hyperbaric Medical Society (UHMS) menyebut setiap sesi hiperbarik mencakup penilaian pasien sebelum dan sesudah perawatan, yang dapat meliputi tanda-tanda vital.
Dokter Ravenska Theodora, sebagaimana dikutip detikHealth, menegaskan bahwa evaluasi medis harus dilakukan sebelum memutuskan menjalani HBOT. Keputusan tetap perlu didasarkan pada evaluasi serta panduan tenaga medis, bukan pada keinginan pasien semata.
Bagi pengelola klinik, catatan sebelum dan sesudah juga berguna sebagai bukti kronologis layanan. Jika ada perubahan kondisi di tengah rangkaian, data tersebut memudahkan dokter membaca pola yang terjadi.
Bagaimana penilaian berkala dan kajian ulang dilakukan?
Penilaian berkala memastikan rencana terapi tetap sesuai dengan kondisi pasien yang dapat berubah. Standar akreditasi klinik dalam Kepmenkes HK.01.07/MENKES/1983/2022 menyatakan kajian ulang pasien, yang berisi perkembangan pasien, perlu dievaluasi secara berkala dan didokumentasikan dalam rekam medis.
UHMS menyebut bahwa luka perlu dipantau secara ketat selama rangkaian terapi hiperbarik untuk menilai perbaikan klinis dan kebutuhan lanjutan terapi. Rencana perawatan juga perlu disesuaikan bila kondisi medis pasien berubah atau muncul diagnosis baru.
Dokumen indikasi HBO UHMS edisi 2020 menegaskan bahwa durasi rangkaian HBO2 perlu disesuaikan dengan respons klinis dan temuan radiologis. Artinya, tidak ada durasi tunggal yang berlaku untuk semua pasien. Pembaca yang ingin memahami cara membaca daftar indikasi resmi dapat membuka panduan indikasi resmi HBOT menurut UHMS.
Pertanyaan apa yang bisa diajukan pasien tentang tindak lanjut?
Pasien dapat menanyakan rencana tindak lanjut sebelum dan selama rangkaian terapi. Beberapa pertanyaan berikut dapat membantu percakapan dengan dokter atau tim klinik:
- Apa diagnosis yang menjadi dasar anjuran HBOT, dan apa indikasi resminya?
- Berapa rencana jumlah sesi, dan bagaimana kriteria dokter untuk melanjutkan atau menghentikan rangkaian?
- Pemeriksaan apa yang akan dilakukan di tengah dan di akhir rangkaian untuk menilai perkembangan?
- Apa yang harus dilaporkan jika muncul keluhan setelah sesi, dan siapa yang dihubungi?
- Bagaimana hasil evaluasi dicatat, dan bagaimana saya dapat meminta penjelasan atas isi rekam medis saya?
Pertanyaan seputar efek samping sebelum sesi juga penting dibahas bersama dokter. Stem Cells Indonesia membahasnya dalam artikel Efek Samping HBOT: Apa yang Perlu Ditanyakan Sebelum Sesi di Klinik Darma Nusantara.
Persiapan sebelum masuk chamber, termasuk skrining dan persetujuan tindakan, dibahas dalam panduan skrining dan informed consent sebelum sesi HBOT.
Bagaimana chamber monoplace masuk ke alur layanan klinik?
Chamber monoplace adalah chamber yang dirancang untuk satu pasien per sesi. Banyak klinik memakai jenis ini karena privasi pasien terjaga dan penjadwalan pasien lebih fleksibel. Kebutuhan setiap fasilitas tetap berbeda-beda tergantung jenis layanan dan indikasi yang ditangani.
Dari sisi alat, pengelola klinik perlu memastikan status izin edar sebelum chamber digunakan untuk layanan. Cara memeriksanya dibahas dalam panduan cek izin edar AKD hyperbaric chamber produksi Indonesia.
Di sisi operasional, dokumentasi yang rapi perlu didukung SOP dan kompetensi tim. Pembahasan keselamatan operasional dan kompetensi tim klinik tersedia dalam panduan SOP klinik HBOT. Produsen chamber dalam negeri, PT Habeote Nafas Murni, menyatakan setiap unit menjalani quality control sebelum dikirim.
Langkah berikutnya untuk klinik yang menyiapkan layanan HBOT
Pencatatan yang konsisten, evaluasi berkala, dan keterlibatan dokter di setiap tahap membantu klinik menjaga mutu layanan HBOT. Bagi klinik yang sedang menyiapkan layanan medis, chamber monoplace OTO-101 dari Habeote dapat menjadi bahan pertimbangan bersama tim dokter. Chamber ini berstatus medical grade dengan tekanan kerja 2.4 ATA dan izin edar Kemenkes AKD 20403620255.
Penggunaan, indikasi, dan dokumentasinya tetap mengikuti penilaian dokter. Untuk berkonsultasi atau menjadwalkan demo, silakan hubungi tim melalui halaman kontak.
Bagi rumah sakit dan klinik yang menyiapkan layanan oksigen hiperbarik, PT Habeote Nafas Murni, produsen hyperbaric chamber monoplace di Indonesia memproduksi hyperbaric chamber monoplace OTO-101 (2.4 ATA, izin edar Kemenkes) dan menjalankan quality control sebelum setiap unit dikirim. Lihat katalog chamber produsen chamber tersebut.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apa saja yang wajib ada di rekam medis HBOT di klinik?
Menurut Permenkes Nomor 24 Tahun 2022, rekam medis minimal memuat identitas pasien, hasil pemeriksaan fisik dan penunjang, diagnosis, pengobatan, rencana tindak lanjut, serta nama dan tanda tangan tenaga kesehatan pemberi layanan. Untuk sesi HBOT, UHMS juga merinci pencatatan tanda vital sebelum dan sesudah sesi serta komplikasi yang terjadi.
Apakah pasien perlu evaluasi dokter sebelum menjalani HBOT?
Ya, evaluasi medis perlu dilakukan sebelum memutuskan menjalani HBOT. Dokter Ravenska Theodora, sebagaimana dikutip detikHealth, menegaskan bahwa keputusan tetap perlu didasarkan pada evaluasi dan panduan tenaga medis.
Berapa lama rangkaian HBOT berlangsung?
Tidak ada durasi tunggal yang berlaku untuk semua pasien. Dokumen indikasi HBO UHMS edisi 2020 menyebut durasi rangkaian HBO2 perlu disesuaikan dengan respons klinis dan temuan radiologis.
Apakah klinik harus memakai rekam medis elektronik?
Ya, Permenkes Nomor 24 Tahun 2022 mewajibkan setiap fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk klinik, menyelenggarakan rekam medis elektronik. Aturan ini berlaku untuk seluruh layanan klinik, termasuk layanan HBOT.
Sumber
- Undersea and Hyperbaric Medical Society (UHMS), Pernyataan posisi dalam Undersea and Hyperbaric Medical Journal volume 51 nomor 2 (2024)
- Undersea and Hyperbaric Medical Society (UHMS), Dokumen indikasi HBO (edisi 2020)
- Kementerian Kesehatan RI, Permenkes Nomor 24 Tahun 2022 tentang Rekam Medis (2022)
- Kementerian Kesehatan RI, Kepmenkes HK.01.07/MENKES/1983/2022 tentang Standar Akreditasi Klinik (2022)
- detikHealth, Lama pulih dari sakit, terapi oksigen hiperbarik bisa jadi pilihan

Foto: Mark Anderson / Wikimedia, CC BY-SA 2.0
Foto: Derekf44 / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0
Foto: Peter Southwood / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0