Terapi oksigen hiperbarik, atau HBOT (hyperbaric oxygen therapy), adalah terapi yang memberikan oksigen murni di dalam ruang bertekanan yang disebut chamber. Terapi sel punca adalah pendekatan yang berbeda, karena melibatkan sel yang diolah di laboratorium. Pembaca perlu memahami perbedaan keduanya sebelum memutuskan apa pun.
Tulisan ini merangkum sumber yang tersedia dan contoh pertanyaan yang dapat diajukan ke fasilitas HBOT, termasuk ke Klinik Darma Nusantara di Curug, Tangerang. Minat terhadap HBOT di Indonesia terus tumbuh, dan pembahasan yang jernih akan membantu perkembangan itu berjalan di jalur yang tepat.
Apa beda HBOT dan terapi sel punca?
HBOT dan terapi sel punca tidak sama. HBOT berfokus pada pemberian oksigen dengan tekanan lebih tinggi dari udara normal, sedangkan terapi sel punca berfokus pada sel yang digunakan untuk tujuan medis tertentu.
Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa sel punca yang boleh digunakan di Indonesia harus berasal dari fasilitas laboratorium pengolah yang memiliki izin dari Kemenkes dan/atau BPOM. Informasi yang sama menyebut bahwa terapi sel punca di klinik sejauh ini masih terbatas pada penggunaan lokal, misalnya penyuntikan di area lutut atau kulit, serta penggunaan topikal di wajah atau kulit.
| Aspek | HBOT | Terapi sel punca |
|---|---|---|
| Yang diberikan | Oksigen murni di dalam chamber bertekanan | Sel yang diolah di laboratorium |
| Acuan yang perlu diperiksa | Daftar indikasi resmi UHMS | Izin laboratorium pengolah dari Kemenkes dan/atau BPOM |
| Penentu kesesuaian | Evaluasi dokter | Evaluasi dokter |
Dari mana indikasi HBOT yang dirujuk berasal?
Indikasi HBOT yang disetujui tercatat dalam daftar resmi Undersea & Hyperbaric Medical Society (UHMS). Halaman indikasi UHMS yang diperbarui pada 2020 menyebut persetujuan awal daftar ini pada 8 Oktober 2011.
Daftar ini sebaiknya dibaca langsung oleh pembaca. Sebuah studi registri di PMC yang mengutip UHMS menyebut ada 15 kondisi yang dapat dipertimbangkan sebagai indikasi HBO2 yang disetujui, sementara publikasi lain menyebut 14. Perbedaan hitungan ini menunjukkan bahwa klinik sebaiknya merujuk daftar yang jelas dan mutakhir.
Apa yang sudah diteliti tentang sel punca dan oksigen hiperbarik?
Penelitian menunjukkan bahwa oksigen hiperbarik dapat memengaruhi sel punca dalam darah pada kondisi tertentu. Studi di Am J Physiol Heart Circ Physiol pada 2006 melaporkan bahwa jumlah sel CD34+ dalam sirkulasi manusia meningkat dua kali lipat setelah satu paparan oksigen 2,0 ATA selama 2 jam, dan meningkat delapan kali lipat pada rangkaian 20 perlakuan.
Meski menarik, temuan ini belum konsisten di semua kelompok pasien. Pada pasien kepala dan leher yang pernah diradiasi, sebuah studi di PMC mencatat peningkatan sel punca dalam darah hanya minor dan tidak terlihat setelah 30 perlakuan.
Tinjauan terbaru di PMC tentang HBOT pada cedera medula spinalis menyebut mekanisme mobilisasi sel punca mungkin melibatkan jalur oksida nitrat. Tinjauan itu juga menyebut oksigen dengan tekanan lebih rendah dapat memicu respons serupa, sehingga efeknya mungkin berasal dari kadar oksigen saja. Dengan kata lain, temuan ini masih perlu diteliti lebih lanjut dan belum dapat dipakai sebagai dasar klaim terapi sel punca.
Mengapa klaim di luar daftar perlu ditanyakan ke dokter?
Klaim HBOT di luar daftar indikasi resmi perlu dibedakan dari indikasi yang sudah disetujui. Menurut informasi ClinicalTrials.gov, studi HBOT untuk indikasi baru dibedakan dari indikasi yang sudah disetujui, dan sebuah registri multisenter dibentuk untuk mengumpulkan data luaran pada indikasi yang bukti pendukungnya masih terbatas.
Kepala BPOM dalam konferensi pers Agustus 2026 di Jakarta menegaskan bahwa klinik yang menawarkan terapi sel punca tanpa standar ilmiah dapat dikenai sanksi sesuai UU Kesehatan Nomor 17 Tahun 2023 (Liputan6). Menurut ANTARA News Gorontalo yang merujuk pernyataan Kemenkes, masyarakat perlu informasi yang benar tentang terapi berbasis sel, termasuk manfaat yang sudah terbukti, indikasi yang tepat, risiko, dan keterbatasannya. Kemenkes juga menekankan perlunya memastikan layanan dilakukan di fasilitas yang berwenang.
Penggunaan medis selalu memerlukan evaluasi dokter.
Pertanyaan apa yang perlu diajukan ke Klinik Darma Nusantara Tangerang?
Klinik Darma Nusantara di Curug, Tangerang, menyediakan Terapi Oksigen Hiperbarik (HBOT) dan layanan gawat darurat 24 jam. Sebagai calon pengguna, Anda berhak mengajukan pertanyaan sebelum sesi dimulai, dan kesesuaian HBOT untuk kondisi Anda tetap ditentukan dokter setelah evaluasi.
Beberapa pertanyaan yang dapat diajukan kepada klinik mana pun yang menyediakan HBOT:
- Apa indikasi HBOT yang dilayani, dan apakah rujukannya mengacu pada daftar resmi UHMS?
- Apakah klinik menawarkan terapi sel punca, dan jika ya, dari laboratorium mana sel tersebut berasal serta apa izinnya?
- Jenis chamber apa yang digunakan, dan apakah dokumen izin edarnya tersedia untuk diperiksa?
- Siapa dokter yang melakukan evaluasi awal, dan bagaimana riwayat kesehatan Anda dipertimbangkan?
Sebagai contoh informasi yang biasa dicantumkan, halaman OTO-101 menjelaskan chamber monoplace medical grade dengan tekanan kerja 2,4 ATA dan nomor izin edar Kemenkes AKD 20403620255. Chamber monoplace banyak dipakai klinik karena privasi dan fleksibilitas penjadwalan pasien, sedangkan kebutuhan setiap fasilitas tetap bergantung pada jenis layanan dan indikasi.
Bagaimana membaca informasi layanan HBOT dengan tenang?
Informasi layanan yang baik memisahkan indikasi resmi dari layanan kebugaran atau wellness. Pembaca dapat memeriksa apakah klaim yang disampaikan dijelaskan dasar risetnya.
Panduan lebih lengkap tersedia dalam artikel Indikasi Resmi HBOT Menurut UHMS: Cara Membaca Daftar dan Membedakan dari Klaim Wellness di HBOTNews. Untuk daftar pertanyaan yang lebih luas, artikel Cara Memilih Layanan HBOT yang Tepat merangkum hal-hal yang perlu diajukan ke fasilitas sebelum memulai sesi.
Kapan sebaiknya berkonsultasi dengan dokter?
Konsultasi dengan dokter sebaiknya dilakukan sebelum sesi HBOT, terutama jika Anda memiliki kondisi kesehatan tertentu atau sedang menjalani pengobatan lain. Evaluasi medis tidak dapat digantikan oleh promosi layanan atau testimoni.
Dengan memahami perbedaan HBOT dan terapi sel punca serta membaca indikasi dari sumber resmi, calon pengguna dapat membuat keputusan yang lebih terinformasi. Riset dan layanan HBOT di Indonesia terus berkembang, dan pembaca dianjurkan mengikuti perkembangannya dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
Bagi pembaca di wilayah Tangerang, layanan Terapi Oksigen Hiperbarik tersedia di Klinik Darma Nusantara di Curug, Tangerang, yang juga melayani gawat darurat 24 jam. Informasi resmi dapat dilihat di situs Klinik Darma Nusantara. Kesesuaian HBOT tetap ditentukan dokter setelah pemeriksaan.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah HBOT sama dengan terapi sel punca?
Tidak, HBOT dan terapi sel punca adalah dua hal yang berbeda. HBOT memberikan oksigen murni di dalam ruang bertekanan, sedangkan terapi sel punca melibatkan sel dari laboratorium pengolah yang berizin.
Apa saja indikasi HBOT yang resmi diakui?
Indikasi HBOT yang disetujui tercatat dalam daftar resmi Undersea & Hyperbaric Medical Society (UHMS). Jumlah kondisi dalam daftar dapat berbeda antarpublikasi, sehingga klinik perlu merujuk daftar yang jelas.
Apakah HBOT bisa meningkatkan sel punca dalam tubuh?
Penelitian menunjukkan adanya peningkatan sel punca dalam sirkulasi pada beberapa studi, tetapi hasilnya tidak selalu konsisten. Temuan ini masih berada pada tahap riset dan tidak dapat dijadikan dasar klaim terapi sel punca.
Apa yang perlu ditanyakan ke klinik HBOT di Tangerang?
Tanyakan indikasi yang dilayani, alasan medis sesi, jenis chamber, dan dokumen izinnya. Keputusan kesesuaian HBOT ditentukan oleh dokter setelah evaluasi.
Sumber
- Undersea & Hyperbaric Medical Society (UHMS), halaman indikasi HBO, diperbarui 2020
- PMC, Emerging Indications for Hyperbaric Oxygen Treatment: Registry Cohort Study
- ClinicalTrials.gov, studi registri HBOT untuk indikasi baru
- PubMed, Stem cell mobilization by hyperbaric oxygen, Am J Physiol Heart Circ Physiol, 2006
- PMC, Only minor stem cell mobilization in head and neck irradiated patients treated with hyperbaric oxygen
- PMC, The role of hyperbaric oxygen therapy for treating spinal cord injury
- Kemenkes RI, Ditjen Kesehatan Lanjutan, Apa Itu Sel Punca
- Liputan6, Terapi Stem Cell Berkembang, Kemenkes Tekankan Keamanan Pasien, 26 Agustus 2026
- ANTARA News Gorontalo, Kemenkes dorong pengembangan terapi sel punca yang aman

Foto: Original uploader was Intermedichbo at sr.wikipedia / Wikimedia Commons, Public domain
Foto: Derekf44 / Wikimedia, CC BY-SA 4.0
Foto: Mark Anderson / Wikimedia Commons, CC BY-SA 2.0